Senin, 14 Maret 2011

setelah lelucon dengan selimut

meskipun kau telah membuatku begini,
aku akan tetap seperti ini ..
memiliki kesabaran yang tidak akan habis,meski arus slalu membuatku terkikis ..
tergurat kelemahan diri yg di bumbui dendam yg membuatku kalut yg semakin berkecamuk kerut ..
sakit yg berserakan di penghujung februari ini,t
etap tidak akan melunturkan satu kisah yg sempat Tuhan beri di 18 februari kemarin

kabar apa yg kau harap setelah membuatku ratap akan sebuah kekosongan harap ?
kau memaksaku memberi selimut malam di antara dingin yg telanjang ..
sungguh mustahil bagiku ..
meski aku ingin yg sesuai kau ingin ..
di balik lelucon selimut yg kita bawakan d telfon genggam,
kau riuhkan suara dg sekuntum bibir yg tak henti membacakan prasaanmu sepenuh sungguh ..
nama ku yg kau sebut beulang-ulang sebelum selimut hangat menemaniku tidur ..
di iringi nyanyian yg sempat ku dendangkan ketika kau pinta tapi aku tak bisa ..
betapa tak siapnya aku menyadari akan hadirnya rahasia sekuncup luka ketika ini ..
setelah kita bersiteru tentang selimut ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar